Suasana Panen Padi Kelompok Tani Tquab Min di Kampung Swentab, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, pekan kemarin.

SENTANI, lpplrku.jayapurakab.go.id – Hamparan tanaman padi yang telah menguning pertanda siap panen membawa keberkahan bagi Kelompok Tani Tquab Min, Kampung Swentab, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura.

Sebagai bentuk rasa syukur, Kelompok Tani Tquab Min bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura menyelenggarakan acara panen padi varietas hibrida tahap II di area persawahan Keltan Tquab Min, pekan kemarin.

“Hari Jumat, 11 Februari 2022 kemarin kami punya agenda kerja itu melakukan panen bersama dengan pihak Polsek Kemtuk Gresi. Jadi kemarin itu kami laksanakan panen padi lanjutan tahap kedua di Kelompok Tani Tquab Min tepatnya di Kampung Swentab Distrik Kemtuk Gresi,” kata David ketika ditanya wartawan media online ini di ruang kerjanya, Senin, 14 Februari 2022.

“Luasan panen padi kemarin itu sebanyak 4,5 hektar. Sebelumnya, juga kami sudah lakukan panen padi dengan luasan sebanyak 3,5 hektar pada bulan Januari 2022 lalu,” tambahnya dengan singkat.

Dalam kesempatan itu, David menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para petani, khususnya Kelompok Tani Tquab Min yang telah berhasil melakukan panen padi varietas hibrida tahap kedua di bulan Februari 2022.

“Kelompok tani yang mengelola (lakukan panen) padi hibrida ini merupakan para petani asli Papua, yang sudah berubah perilakunya dalam bertani. Jadi, tidak hanya berorientasi pada tanaman sayur-sayuran, umbi-umbian, sagu atau tanaman palawija lainnya. Tapi, mereka sudah konsen juga untuk mengembangkan padi,” imbuhnya.

David juga menyampaikan, para petani atau Kelompok Tani Tquab Min dalam mengembangkan padi ini sudah masuk tahun ketiga.

“Ini sudah tiga tahun berjalan, atau di tahun 2022 ini merupakan tahun ketiga mereka lakukan pengembangan padi dari luasan pertama sekitar 2 hektar. Setelah lakukan panen padi tahap kedua, mereka nyatakan siap lagi untuk mengembangkan padi varietas hibrida lebih luas lagi atau lakukan penambahan area persawahan. Karena mereka senang dengan padi varietas yang ada saat ini, di mana varietas padi ini umurnya pendek dan di sekitar 70 hari sampai 85 hari sudah bisa lakukan panen,” bebernya.

“Sedangkan untuk varietas lain, itu bisa sampai tiga bulan atau empat bulan atau 110 hari sampai 120 hari. Tapi padi yang kemarin kami kembangkan dan panen ini, di dua bulan sudah bisa lakukan panen,” sambung David.

Untuk diketahui, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura dalam mengembangkan padi varietas hibrida ini bekerja sama dengan Polda Papua.

“Padi varietas yang sudah kami kembangkan di kelompok tani Tquab Min ini, bekerja sama dengan dengan pihak Polda Papua. Mereka membantu kami dalam membuka lahan dengan alat berat, sementara kami mengolah tanahnya dan melakukan rotary. Sehingga para petani itu tanam padi dalam bentuk Tabela (tanam benih langsung), jadi tidak di semai lagi benihnya dan gunakan sistem Tabela,” terangnya.

Bertanam padi hibrida merupakan salah satu teknologi pemuliaan tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan produktivitas padi secara nasional. “Melalui pemanfaatan keunggulan sifat heterosis yang terdapat pada turunan pertama (F1) padi hibrida, akan menghasilkan potensi hasil yang lebih tinggi hingga 20 persen dibanding padi inbrida atau lokal,” imbuhnya.

David berharap dengan adanya demplot ini, sangat penting yang tujuannya adalah sebagai sarana desiminasi atau mensosialisasikan pengenalan varietas baru produksi rakitan anak bangsa yang belum pernah dikembangkan petani.

Pada kesempatan ini, David juga memberikan apresiasi dan ucapkan terima kasih kepada pihak Polda Papua. Disampaikannya, panen ini adalah hasil kerjasama antara pihak Dinas TPH bersama Kelompok Tani Tquab Min dengan Polda Papua, untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan produktivitas padi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here